Rabu, 01 Februari 2012

NILAI TUKAR DINAR DIRHAM 01-02-2012 , Rabu Pagi

DINAR EMAS
Nisfu (1/2) Dinar - Rp. 1.105.000,-
Dinar - Rp. 2.210.000,-
Dinarayn - Rp. 4.420.000,-

DIRHAM PERAK
Daniq (1/6) Dirham - Rp. 11.067,-
Nisfu (1/2) Dirham - Rp. 33.200,-
Dirham - Rp. 66.400,-
Dirhamayn - Rp. 132.800,-
Khamsa - Rp. 332.000,-

http://www.wakalanusantara.com/index.php

Minggu, 30 Oktober 2011

Ku menatap kampung dan kuingat (1)

Ada bukit pohon bambu
Ada burung, tupai, hinggap dipohon besar
Ada sungai yang jernih
Ada rakit-rakit yg penuh dengan pasir di sungai cisadane
Ada hijaunya rumput
Ada kumpulan bangau putih, terbang
Ada musim memburu belalang
Ada hijaunya padi
Ada kilauan kuning padi tua
Ada pematang sawah
Ada banjir di sawah
Ada empang plus jamban
Ada kerang di sungai cisalak
Ada bukit dimomonggor plus lapangan sepakbolanya
Ada gunung kecil dikademangan
Ada warga belanda berolahraga saban minggu melewati tanah merah kampung sengkol
Ada galian pasir dengan sedotannya di Sungai Cisadane
Ada galian pasir dengan sedotannya disawah
Ada escapator
Ada truck HK warna kuning
Ada mobil "tiper" pasir eks Rusia yg masih dipakai di perang Vietnam
Ada musim mencari pasir disebut Ngabebek
Ada truk tanah merah dgn ban dobel-dobel
Ada sepeda ontel 3 unit
Ada Sepeda ontel untuk membawa kayu-kayu yg terkubur didalam tanah entah berapa ratus tahun

Jumat, 21 Oktober 2011

Suharna Surapranata, Teladan di Semua Mihwar

Suharna Surapranata, Teladan di Semua Mihwar

Dakwah
10/21/2011 10:25:00 AM | Posted by Ghiroh Tsaqofy

<6


Islamedia - Gonjang-ganjing reshuffle kabinet banyak mendapatkan sorotan
media akhir-akhir ini. Banyak media menilai PKS emosional mensikapi
reshuffle ini lantaran seorang menterinya terkena dampak, harus meninggalkan
kursi kementrian untuk diganti personal lain. Benarkah ada sikap emosional
menghadapi reshuffle tersebut, dan bagaimana sikap Menteri yang terkena
reshuffle ?

Menteri dari PKS yang terkena reshuffle itu adalah Suharna Surapranata.
Apakah ia emosional menghadapi peristiwa ini ? Ah, berlebihan pertanyaan
itu. Kang Harna, panggilan akrab sang menteri, ternyata biasa saja. Bersikap
sangat arif dan tenang, sama sekali tidak ada kesan emosional.

*Belum Pengumuman, Sudah Berpamitan*

Bagi banyak kalangan, jabatan menteri dianggap sebagai sebuah posisi yang
prestis dan terhormat, maka banyak orang berebut mendapatkannya. Oleh karena
itu, bagi sebagian menteri, reshuffle sungguh merupakan tamparan dan menjadi
momok yang sangat menakutkan. Namun tidak demikian dengan Kang Harna. Mantan
Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS ini menganggap posisi menteri
adalah amanah dakwah. Maka sebagai bagian utuh dari proses dakwah, ia siap
ditempatkan dimanapun pos-pos yang bisa menjadi lahan baginya untuk
berkontribusi secara optimal.

Begitu isu reshuffle sudah kian menghangat, dan sudah ada isyarat dari
Istana Negara bahwa dirinya akan diganti, ia langsung menyiapkan segala
sesuatu. Selasa pagi, 18 Oktober 2011, Kang Harna memimpin Rapim Menristek
yang dihadiri para pejabat di lingkungan Kementrian. Pada Rapim tersebut,
Kang Harna menyampaikan bahwa dirinya akan segera diganti oleh personal lain
yang akan ditunjuk oleh Presiden SBY. Oleh karena itu Kang Harna
menyampaikan kalimat pamitan dan beberapa pesan.

Tentu saja pernyataan tersebut sangat mengejutkan para pejabat di lingkungan
kementrian Ristek, karena belum ada pengumuman resmi dari Presiden SBY
terkait reshuffle. Banyak kalangan pejabat di kementrian yang merasa tidak
percaya atas informasi tersebut. Selama ini hubungan sang menteri maupun
kementrian Ristek dengan Presiden SBY baik-baik saja, tidak ada masalah atau
kasus apapun yang layak dipersoalkan. Bahkan ada banyak kemajuan serta
prestasi di Kementrian Ristek selama dipimpin Kang Harna.

Apalagi jika dibandingkan dengan beberapa kementrian lainnya yang tengah ada
kasus, atau mendapatkan “raport merah” dari UKP4, atau ada masalah dengan
laporan keuangan kementrian. Justru Kementrian Ristek posisinya aman-aman
saja, bahkan mendapatkan nilai bagus, maka pernyataan pamit Kang Harna
sangat mengejutkan para pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek.

Bukan hanya pamitan di forum resmi tersebut, namun Kang Harna juga
mengunjungi seluruh lantai dan memasuki ruangan-ruangan untuk menyapa
sekaligus berpamitan dengan para pegawai di lingkungan kementrian Ristek.
Benar-benar kejutan, karena tidak menyangka Kang Harna menyapa mereka dan
berdialog dengan para staf, sekaligus berpamitan. Kang Harna sudah pamit
padahal reshuffle belum diumumkan SBY, sehingga belum ada kepastian apakah
Menristek diganti atau tidak.

Para pegawai di lingkungan Kementrian Ristek memanfaatkan momentum itu untuk
bersalaman dan berpotret bersama sang Menteri. Ya, Menteri Ristek di hari
terakhir pengabdiannya. Sebagian pegawai bahkan terharu dan meneteskan air
mata karena tidak menyangka Kang Harna akan segera meninggalkan mereka.

Usai mengungkapkan pamit, Kang Harna menyampaikan beberapa pesan kepada para
pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa jabatan itu hanya
amanah yang setiap saat bisa selesai. Beliau mengatakan reshuffle Menristek
itu hanya pindah nakhoda, karena semuanya sudah tersedia, seperti
undang-undang, visi, misi kementrian dan perangkat lainnya. Untuk itulah
Kang Harna meminta semua pejabat dan staf bekerja semakin profesional
bersama menteri baru nantinya.

*Telah Selesai Berkemas*

Sesungguhnya, semenjak isu reshuffle bergulir, Kang Harna sudah
memerintahkan kepada para staf khusus beliau untuk segera berkemas.
Demikianlah Kang Harna menyikapi setiap ada isu reshuffle. Seakan sudah
memastikan bahwa dirinya yang akan terkena. Hal sama beliau lakukan saat ada
isu reshuffle setahun yang lalu, beliau sudah memerintahkan staf untuk
berkemas. Namun ternyata waktu itu tidak jadi ada reshuffle.

Para staf segera melakukan perapihan di kantor Kementrian Ristek, dengan
memilah barang-barang. Kang Harna berpesan agar cermat dalam melakukan
packing. Jangan ada barang kementrian yang terbawa, dan jangan ada barang
pribadi yang tertinggal. Hingga hari Senin 17 Oktober 2011, packing sudah
selesai dilakukan oleh para staf. Barang-barang sudah dikemas dengan rapi
dan tinggal membawa pergi.

*Pulang Dengan Mobil Pribadi*

Usai berpamitan dan berpesan dengan pejabat dan staf di lingkungan
Kementrian, Kang Harna pun pulang. Luar biasa, siang itu, Selasa 18 Oktober
2011, beliau pulang mengendarai mobil pribadi. Mobil dinas Menristek beliau
parkir di kantor, kunci serta seluruh perlengkapan mobil sudah dititipkan
kepada pegawai yang berwenang.


Para pejabat yang melepas beliau semakin heran. Seseorang bertanya, “Mengapa
tidak menggunakan mobil menteri?” Kang Harna menjawab, “Saya sudah pamitan.
Itu jatah mobil menteri baru nanti”, jawab beliau.

Sebuah keteladanan yang luar biasa. Betapa banyak pejabat yang ingin selalu
menikmati bahkan memiliki fasilitas dinas. Kalau perlu tidak dikembalikan,
walaupun tidak lagi menjabat. Tidak demikian dengan kader senior PKS ini.
Kang Harna memberikan contoh perilaku politik yang santun, beradab dan
bertanggung jawab. Kang Harna simbol kesalihan seorang pejabat negera
setingkat menteri.

Tidak perlu menunggu pengumuman resmi. Beliau sudah berpamitan. Beliau sudah
mengemas semua barang. Beliau sudah menyerahkan mobil kementrian. Maka,
siang hari itu, sejarah perpolitikan di Indonesia mencatat, seorang Menteri
yang menuntaskan pekerjaan di hari terakhir tugasnya, dengan sempurna.

Luar biasa. Sikap konsistensi kepada keyakinan, sikap kesederhanaan, sikap
kehati-hatian telah dicontohkan. Sejarah perpolitikan Indonesia harus
mencatat peristiwa ini, sebagai pelajaran bagi seluruh pejabat di republik
ini.

*Mengembalikan Rumah Dinas*

Kemana Kang Harna setelah selesai pamitan di Kantor Kementrian Ristek ?
Selasa siang itu, 18 Oktober 2011, dengan menggunakan mobil pribadinya, Kang
Harna langsung menuju rumah Dinas Menristek. Beliau meneliti kondisi rumah,
dan memastikan bahwa rumah dinas tersebut sudah berada dalam kondisi rapi.
Beliau memasuki rumah dan melihat semua bagian dan ruangan dengan detail.
Jangan ada barang-barang milik dinas yang terbawa, dan jangan ada barang
milik beliau yang tertinggal.

Setelah memastikan bahwa semua sudah beres dan rapi, beliaupun meninggalkan
rumah dinas Menristek. Beliau ingin memastikan bahwa rumah dinas tersebut
besok pagi sudah siap ditempati Menristek yang baru. Luar biasa, sebuah
sikap kesederhanaan dan kehati-hatian yang pantas diteladani oleh semua
masyarakat dan bangsa, khususnya bagi para pejabat negara.

Lagi-lagi, sejarah perpolitikan di Indonesia harus mengabadikan peristiwa
ini. Sebuah pendidikan politik bagi para pejabat di seluruh level, agar
bersikap profesional, sederhana dan bersahaja.

*Mengganti KTP*

Masih ada yang kurang, siang itu. Usai meneliti rumah dinas, Kang Harna
segera meluncur ke Kantor Kelurahan. Apa yang beliau lakukan ? Ternyata
beliau mengurus pergantian KTP.

Dalam KTP yang beliau miliki selama menjabat menjadi Menristek, tertulis
identitas “Menteri” di KTP tersebut. Maka Kang Harna ingin semua selesai
pada hari itu pula, Selasa 18 Oktober 2011, sebelum ada pengumuman resmi
reshuffle kabinet. Beliau meminta agar dibuatkan KTP baru dengan identitas
yang baru pula, karena besok pagi beliau sudah bukan Menteri.

Lega. Kang Harna menyelesaikan pembuatan KTP baru. Apa yang berbeda dari KTP
tersebut ? Kalau semula tertulis identitas “Menteri” pada KTP beliau,
sekarang tertulis “Wiraswasta” pada KTP yang baru.

Lagi-lagi, luar biasa Menteri yang satu ini. Perjalanan panjang dalam
gerakan dakwah telah membentuknya memiliki karakter yang mulia. Beliau tidak
ingin ada pemalsuan identitas. Beliau bukan lagi menteri, besok pagi. Maka
tidak layak memiliki KTP yang bertuliskan identitas “Menteri”. Beliau ingin
tampil dengan identitasnya yang asli, “Wiraswasta”. Bukan “Mantan Menteri”.

*Jam 13.00 Sudah Selesai Semuanya*

Ya, jam 13.00 wib hari Selasa 18 Oktober 2011, sudah selesai semua urusan
Kang Harna. Sudah berpamitan dan memberi pesan di Kementrian Ristek. Sudah
mengembalikan mobil dinas. Sudah meninggalkan dan merapikan rumah dinas.
Sudah mengganti identitas di KTP. Lega, semua urusan sudah dibereskan.
Rasanya tidak ada yang tersisa.

Masyaallah. Pengumuman reshuffle belum disampaikan. Belum ada kepastian
apakah Kang Harna akan jadi diganti atau tidak. Namun semua urusan sudah
dibereskan. Jika nanti malam Presiden SBY mengumumkan kabinet baru, dan
ternyata dirinya benar-benar diganti, maka ia sudah menuntaskan seluruh
urusannya. Tidak ada lagi yang menjadi bebannya.

*Keluarga Menyambut Gembira*

Kang Harna memang sudah dihubungi oleh Mensesneg Sudi Silalahi, yang
menyampaikan pesan dari Presiden SBY bahwa dirinya akan diganti. Ia menerima
pesan itu dengan perasaan “legowo”, tidak melakukan “pemberontakan” atau
“perlawanan”. Misalnya dengan membuat pernyataan di media yang menyatakan
bahwa dirinya dizalimi atau tidak terima kalau diganti, atau semacam itu.
Tidak, sama sekali tidak.

Kang Harna justru mengirim kabar itu melalui sms kepada anak-anak beliau.
Apa respon anak-anak atas berita itu ?

“Alhamdulillah Abi !” ini jawaban anak pertama.

“Alhamdulillah. Berarti Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau begitu
kita perlu syukuran !” jawab anak kedua. Ya, semua keluarga menyambut
gembira.

Dua tahun menjadi Menristek, membuat Kang Harna lebih sibuk daripada
sebelumnya. Jam 06.00 wib Kang Harna sudah berada di kantor Kementrian
Ristek. Ya pagi-pagi sekali beliau sudah berada di kantor, bahkan sering
sebelum jam 06.00 wib beliau sudah masuk kantor. Setelah itu beliau
berkegiatan di dalam kantor atau berkegiatan di luar lingkungan kantor
Kementrian. Sore atau malam baru pulang ke rumah dinas.

Dengan irama kesibukan seperti itu, membuat beliau semakin jarang bertemu
keluarga. Beliau ingin memberikan contoh teladan bagi semua pejabat, pegawai
dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa bekerja harus
bersungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Habis menunaikan shalat Subuh beliau
sudah siap pergi ke kantor. Maka, sebelum jam 06.00 beliau sudah berada di
ruangan Menristek. Kadang jam 05.30 sudah berada di ruang kerja kementrian.

Maka demikian bergembira anak-anak beliau, saat mendapat kabar bahwa Kang
Harna akan digeser dari Menristek dan diganti personal lain yang ditunjuk
Presiden SBY. Coba perhatikan respon spontan ini, “Alhamdulillah. Berarti
Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau begitu kita perlu syukuran !”

Benar, malam harinya, Presiden SBY mengumumkan kabinet baru hasil reshuffle.
Suharna Surapranata digantikan oleh Menristek yang baru, Gusti Muhammad
Hatta.

*Kinerja Kementrian*

Penggantian Kang Harna dari Menristek sudah pasti bukan karena kinerja.
Karena berdasarkan penilaian Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan
Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan BPK, kinerja Menristek diakui bagus.
Bahkan laporan keuangan Kementrian dibawah Kang Harna dinyatakan WTP selama
dua tahun berturut-turut, maka renumerasi Kemenristek dipercepat tahun ini.

Nilai “Wajar Tanpa Pengecualian” (WTP) adalah opini audit atas laporan
keuangan yang paling bagus atau menempati posisi paling atas. Opini audit
lainnya adalah “Wajar Dengan Pengecualian” (Qualified Opinion), “Tidak
Memberikan Pendapat” (Disclaimer) dan “Tidak Wajar” (Adverse). Maka dengan
melihat hasil penilaian UKP4 serta nilai WTP selama dua tahun di bawah
kepemimpinan Kang Harna, menandakan kinerja Menristek tidak ada masalah.

Maka tatkala Presiden SBY mengumumkan kabinet hasil Reshuffle, dan ternyata
Kang Harna keluar dari jajaran kementrian, publik layak bertanya, atas dasar
apa pergantian itu ? “Sudahlah, tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi”,
jawab Kang Harna.

Seperti yang ditulis Kompas, “Kendati tak mengetahui alasan pasti terkait
pencopotannya, mantan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata
mengaku legawa. Tak lupa, politisi Partai Keadilan Sejahtera ini mengucapkan
syukur karena telah memiliki kesempatan mengabdi kepada negara”.

"Saya juga merasa bersyukur bisa membantu Presiden selama dua tahun ini,"
kata Suharna kepada para wartawan di sela-sela upacara pelantikan menteri
dan wakil menteri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/10/2011).

Ketika ditanya lebih rinci terkait detik-detik pencopotannya, Suharna enggan
menceritakannya. Pencopotannya dipandang hak prerogatif Presiden sepenuhnya.
Dirinya hanya mengaku menerima telepon dari Menteri Sekretaris Negara Sudi
Silalahi.

"Sudahlah. Saya kira ini tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi," ujarnya
singkat.

Suharna mengatakan, selepas menjadi menteri, dirinya ingin kembali ke PKS
dan membangun partai. Pencopotan Suharna yang secara resmi disampaikan
Presiden di Istana Merdeka, Selasa (18/10/2011), turut mengurangi jatah
kursi menteri partai dakwah tersebut. Demikian ulasan Kompas.

Bahkan, saat acara serah terima jabatan Menristek di kantor Kementrian, Kang
Harna menyampaikan, “Saya pinjam pantun Pak Tifatul. Ayu Ting Ting naik
Kopaja, yang penting kita tetap bekerja.” Itulah slogan yang sangat nyata.
Dimanapun Kang Harna, pasti akan terus bekerja untuk masyarakat, bangsa dan
negara.

*Kang Harna di Mata Saya*

Beliau orang yang ramah, santun dan bersahaja. Beliau salah seorang jajaran
qiyadah dakwah yang memberikan contoh konsistensi dalam kehidupan. Kader
senior dakwah yang menapaki jalan panjang dan terjal, menghantarkan dakwah
dari ruang-ruang tertutup menuju ruang-ruang kenegaraan. Dan beliau sendiri
mencontohkan bagaimana sikap seorang negarawan.

Beliau tidak pernah berambisi jabatan apapun, baik dalam organisasi maupun
dalam jabatan publik. Saat beliau mendapatkan amanah menjadi salah seorang
calon menteri yang diusulkan oleh PKS, kami semua mengetahui bahwa beliau
keberatan dengan posisi itu. Beliau merasa ada lebih banyak kader dakwah
yang tepat pada posisi kementrian. Namun, beliau juga memberikan contoh
bahwa amanah harus dilaksanakan dengan segenap kemampuan.

Itulah yang sering saya katakan, “Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan
pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah
kembali. Bisa ‘iya’ bisa ‘tidak’. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin
dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak
menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut”.

Kang Harna telah memberikan contoh kepada kita. Beliau tetap bekerja,
dimanapun berada. Beliau selalu di jalan dakwah, selalu istiqamah, saat
masih duduk di bangku kuliah, saat perintisan awal dakwah, saat mengalami
masa-masa pertumbuhan dakwah yang sulit, dan bahkan akhirnya menjadi pejabat
negara, dan sekarang kembali lagi menjadi masyarakat biasa. “Wiraswasta”,
begitu pilihan identitas di KTP-nya.
Tidak menyalahkan sana menyalahkan sini, tidak emosi karena dicopot dari
menteri, justru beliau menampakkan sikap yang rendah hati.

Luar biasa. Gemblengan perjalanan dakwah puluhan tahun telah menampa Kang
Harna memiliki karakter yang sangat kuat. Layak diteladani oleh para kader,
tentang kesederhanaan, tentang ketekunan, tentang dedikasi, tentang
konsistensi, tentang kehati-hatian, tentang kesantunan, tentang
profesionalitas kerja, tentang kemampuan adaptasi di segala mihwar, tentang
sikap kenegarawanan, tentang komitmen kekaderan, tentang visi yang terang
benderang, tentang platform pembangunan Indonesia yang jelas.

Banyak, teramat sangat banyak yang bisa kita pelajari dari kader senior yang
satu ini. Saya salah seorang kader yang merasa bangga, memiliki senior yang
memberikan keteladanan mulia kepada generasi berikutnya. Semoga semakin
banyak kader berkualitas Suharna Surapranata.

*Oleh : Cahyadi Takariawan*

Kamis, 20 Oktober 2011

Dimana Mencari Suami Ideal?

Baitul Muslim
21/10/2011 | 24 Zulqaedah 1432 H | Hits: 161

Oleh: Cahyadi Takariawan

dakwatuna.com - “Mencari suami ideal dimana ya pak ?” tanya mbak Diyan Hastari pada postingan saya terdahulu tentang Sepuluh Karakter Suami Ideal. Sebuah pertanyaan yang menarik.

Adakah sebuah tempat yang menyediakan suami ideal, dimana para perempuan lajang yang hendak menikah tinggal memilih dan membawanya pulang ? Adakah supermarket yang menyediakan stock suami ideal dan kita tinggal membayar harganya di kasir ? Bahkan, adakah seseorang yang bisa disebut sebagai suami ideal ?

Ideal itu adalah proses dan usaha “menjadi”. Bukan pada “hasil jadi” yang bernama “suami ideal”. Namun justru pada proses dan usaha yang terus menerus dilakukan untuk mencapai “hasil jadi” tersebut, yang ujungnya belum tentu akan sampai kepada titik idealitas yang diharapkan. Belum tentu sampai, namun proses dan usaha itulah yang memberikan arti dan makna dalam diri kita.

Memahami Proses

Jangan berharap mendapatkan suami ideal saat seorang wanita memutuskan untuk menikah. Sungguh ia hanya menikah dengan seorang lelaki yang biasa saja, yang akan melakukan pembelajaran bersama, berproses bersama, menuju kepada kondisi ideal yang diharapkan. Proses inilah yang harus dilakukan dengan konsisten dan penuh kesabaran, karena teramat banyak kendala menyusuri setiap langkah dan konsekuensinya.

Semua orang selalu memiliki sisi kelebihan dan kekurangan, maka saat mengawali hidup berumah tangga, setiap laki-laki dan perempuan harus menyiapkan diri untuk menghadapi semua sisi yang dimiliki pasangannya. Tidak boleh hanya siap menghadapi sisi kebaikannya dan tidak siap melihat sisi kekurangan pasangan. Mungkin saja masih amat banyak kekurangan pasangan, namun bukankah kita semua tengah melakukan sebuah proses menuju kondisi yang lebih baik ?

Kadang dijumpai seseorang yang tidak sabar menghadapi kekurangan dan kelemahan pasangan. Ia tidak mau menerima kenyataan bahwa dalam diri pasangannya ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapannya. Padahal pasangannya tengah berusaha melakukan proses dan usaha agar bisa sesuai harapan, namun namanya proses, tidak semudah membalik telapak tangan. Semua pihak harus bersabar dan memahami adanya proses dan usaha yang tengah dilakukan oleh pasangannya.

Mencari Suami Ideal di Rumah Sendiri

Tidak ada toko yang menjualnya. Tidak ada lembaga yang menyediakannya. Tidak ada instansi yang memiliki stock dan siap dibagi-bagikan kepada para perempuan lajang yang akan menikah. Suami ideal itu didapatkan di rumah tangga yang dibentuk antara seorang lelaki biasa dan seorang wanita biasa. Didapatkan dari sebuah prosesi pernikahan yang sah, yang ditindaklanjuti dengan konsistensi kedua belah pihak, untuk berproses menuju kondisi ideal.

Konon, “hanya lautan dengan ombak hebat yang bisa melahirkan pelaut tangguh”. Ya, bukan lautan yang tenang, justru laut yang bergelombang. Gangguan, cobaan, ujian yang dihadapi keluarga dalam kehidupan sehari-hari, akan membentuk karakter sebagai suami dan sebagai istri yang semakin berkualitas ideal. Maka, wajar di awal pernikahan, baik suami maupun istri berada dalam situasi “culun”, polos, dan apa adanya, karena belum menghadapi benturan dengan ombak kehidupan keluarga.

Seorang lelaki yang telah membina kehidupan rumah tangga selama tiga puluh tahun, tentu lebih memiliki perspektif yang luas dan dalam tentang sosok suami ideal, dibandingkan dengan lelaki yang baru setahun menikah. Demikian pula, lelaki yang telah memiliki anak dari hasil pernikahannya, akan memiliki gambaran yang lebih kuat tentang suami ideal, dibanding dengan lelaki lajang yang baru akan melaksanakan pernikahan. Kita tidak bisa membandingkan mereka semua, karena tidak berada dalam kondisi dan situasi yang bisa dibandingkan.

Artinya, “jam terbang” menjadi memiliki arti. Pilot yang pertama kali terbang tidak bisa dibandingkan dengan pilot senior yang sudah ribuan kali memimpin penerbangan. Jam terbang mereka tidak bisa dibandingkan. Untuk itulah, jangan bandingkan suami Anda dengan lelaki lain, karena semua orang memiliki kondisi yang berbeda. Tidak layak membandingkan suami Anda dengan suami orang lain.

“Menurutku, pak Budhi itulah sosok suami ideal”, kata Rita kepada suaminya, Bambang. “Ya benar. Budhi itu suami ideal, karena Novie juga istri ideal”, jawab Bambang membalas omongan istrinya.

Tidak perlu mencari-cari dari orang lain. Pada diri suami satu-satunya yang ada di rumah Anda dan selalu mendampingi Anda itulah, Anda akan mendapatkan sosok suami ideal. Jangan menyesali pernikahan yang sudah dengan sadar Anda laksanakan. Yang paling penting justru melakukan proses secara konsisten dan kontinyu, untuk membentuk berbagai karakter ideal dalam diri suami dan istri, agar masing-masing menuju kondisi yang lebih baik.

Membantu Suami Menjadi Ideal

Dalam kehidupan keluarga, semua pihak saling memberikan pengaruh, positif maupun negatif. Seluruh problematika dalam kehidupan rumah tangga selalu ada andil dan kontribusi dari kedua belah pihak, suami dan istri. Maka, jika menghendaki memiliki suami ideal, para istri harus membantu suaminya untuk selalu berproses menuju kondisi ideal.

Berikan kepercayaan kepada suami, agar ia memiliki perasaan nyaman karena mendapat kepercayaan dari istri. Hindarkan bentuk kalimat negatif untuk menyampaikan keinginan karena akan berpotensi menyebabkan suami merasa diadili dan dihakimi. Gunakan kalimat positif untuk mendorong suami agar selalu berproses menuju kebaikan.

“Aku benci sekali penampilanmu yang tidak pernah rapi”, ini adalah contoh kalimat negatif, yang dimaksudkan istri untuk membuat suaminya tampil lebih rapi. Namun bentuk kalimat negatif seperti ini sejak awal sudah membuat barrier, suasana yang tidak nyaman pada diri suami, karena merasa tidak dihargai dan tidak dipercaya.

“Aku bangga sekali menjadi istrimu. Engkau suami yang ganteng dan selalu bekerja keras demi keluarga. Namun akan lebih ganteng jika engkau lebih memperhatikan kerapian penampilanmu. Sedikit saja, engkau cuma perlu lebih rapi dalam berpakaian,” ini adalah contoh kalimat positif yang lebih terasa nyaman pada hati suami. Sama-sama ingin mengubah penampilan suami, penggunaan kalimat positif lebih efektif daripada kalimat negatif.

Itulah di antara cara membantu suami untuk berproses menjadi ideal. Dia tidak akan bisa menjadi ideal dengan sendirinya, namun perlu proses bersama. Saling melengkapi, saling menguatkan, saling mengisi, saling memberi, saling menasihati, saling menjaga, saling memahami proses yang tengah terjadi.

Nah, Anda bisa mendapatkan sosok suami ideal dari proses dan usaha yang Anda lakukan bersama pasangan. Seiring sejalan, saling menguatkan proses dan usaha yang tengah dilakukan, untuk menuju kondisi ideal.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15733/dimana-mencari-suami-ideal/#ixzz1bOfMUd2C

Senin, 18 Juli 2011

NILAI TUKAR DINAR DIRHAM

18-07-2011 , Senin Pagi

DINAR EMAS
Nisfu (1/2) Dinar - Rp. 944.500,-
Dinar - Rp. 1.889.000,-
Dinarayn - Rp. 3.778.000,-

DIRHAM PERAK
Daniq (1/6) Dirham - Rp. 10.633,-
Nisfu (1/2) Dirham - Rp. 31.900,-
Dirham - Rp. 63.800,-
Dirhamayn - Rp. 127.600,-
Khamsa - Rp. 319.000,-

http://www.wakalanusantara.com/

Selasa, 14 Juni 2011

REFORMASI BIROKRASI TANGERANG SELATAN (2)

Arif Wahyudi – Peserta Program S 3 Administrasi Publik FISIP UI

Diterbitkan Satelitnews, 24 Mei 2011

Dalam satu diskusi Wakil Walikota Tangerang Selatan Benyamin Davnie (Bang Ben) menguraikan banyak masalah dan harapan. Bang Ben diantaranya menyatakan, ‘Sudah banyak perubahan dalam birokrasi kita, hanya kulturnya yang belum berubah’. Ini menggelisahkannya, terutama pada begitu kentalnya simbolik kekuasaan dalam relasi birokrasi dengan masyarakat. Kegelisahan Bang Ben ini merupakan verifikasi lapangan terhadap permasalahan kronis birokrasi yang diakui Prepres 81-2010 yang penulis paparkan pada tulisan pertama. Pola pikir (mind-set) dan budaya kerja (culture-set) birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang efisien, efektif dan produktif, dan profesional. Selain itu, birokrat belum benar-benar memiliki pola pikir yang melayani masyarakat, belum mencapai kinerja yang lebih baik (better performance), dan belum berorientasi pada hasil (outcomes). Sebagai wakil walikota, Bang Ben diberi tanggung jawab untuk memperbaiki business process birokrasi Tangerang Selatan, sehingga reformasi birokrasi Tangerang Selatan menjadi tema yang tepat untuknya.
Keprihatinan terhadap birokrasi juga disampaikan Sadu Wasistiono (2010) yang menyatakan, ‘Birokrasi di Indonesia mengidap biropatologi yang parah’, yang diantaranya ditandai oleh; 1. jumlah pegawai (tetap dan kontrak kerja) setiap tahun yang terus membengkak, tanpa ada standar yang jelas mengenai kebutuhan formasi untuk setiap entitas pemerintahan. Penambahan pegawai lebih didasarkan pada pendekatan politis untuk menjadikan lembaga pemerintah sebagai penampungan tenaga kerja yang terus meningkat tetapi belum dapat diserap oleh sektor lainnya; 2. belum ada standar kompetensi menurut jenis jabatan, sehingga pengisian jabatan lebih didasarkan pada like and dislike, yang kemudian
mendorong terjadinya politisasi birokrasi. Hal ini sangat terasa bagi birokrasi di daerah. Setiap lima tahun mereka “memasang dadu” untuk nasib jabatan mereka tanpa adanya pola pengembangan karier yang jelas; 3. belum adanya pengukuran kinerja individu yang berbasis pada kompetensi dan berkait dengan pemberian imbalan. DP3 sebagai alat represi terhadap bawahan masih terus dipertahankan; 4. model organisasi birokrasi yang digunakan di Indonesia sudah sangat usang, yakni model organisasi struktural (generasi Kedua), padahal teori organisasi sudah berkembang sampai generasi kelima.
Dalam hal biropatologi, Eko Prasojo (2006) memberi contoh kleptokrasi, orang mencuri harta rakyat dengan mengatasnamakan birokrasi. Seperti kleptomania, namun mereka dilindungi dengan asas legal formal. Pada bagian lain Eko Prasojo selaras dengan pendapat Sadu Wasistiono mengingatkan agar birokrasi dibebaskan dari kooptasi politik.
Masalahnya kemudian adalah bagaimana dan darimana memulai reformasi birokrasi. Eko Prasojo menyatakan reformasi birokrasi dapat dilakukan dari daerah sesuai otonomi. Bahkan dikatakannya reformasi birokrasi tidak akan terjadi kalau daerah tidak bergerak. Yang diperlukan adalah 4 C commitment, concept, competency, dan clean dari pimpinan daerah. Lihat saja Bantul, Jembrana, Solok, dan Tanah Datar. Mereka bisa melakukannya. Jadi, yang dilakukan pusat hanya memberikan grand design, sementara agenda setting diserahkan kepada daerah. Grand design telah diberikan Pemerintah melalui Perpres 81-2010, maka tantangan Bang Ben kemudian adalah menyiapkan agenda setting reformasi birokrasi Tangerang Selatan. Tantangan besar lain yang dihadapi Bang Ben (tentunya bersama ARD) adalah konsistensi mereka untuk membebaskan birokrasi Tangerang Selatan dari kooptasi politik. Hal ini relevan mengingat sebentar lagi akan diselenggarakan Pilkada Gubernur yang berpotensi menarik kembali birokrasi dalam politisasi.
Beberapa Masukan
Bang Ben mengutip nasihat ayahnya, ‘Beli hatinya, kau dapat kepalanya’. Dalam mereformasi birokrasi, pembelian hati ini perlu dilakukan secara sistematis, massive, dan terstruktur. Bila Bang Ben menyatakan, hanya budaya birokrasi yang belum berubah, maka justru budaya inilah yang perlu menjadi fokus reformasinya.
Reformasi budaya di awal pembangunan Singapura barangkali dapat menjadi inspirasi. Sebagai bagian rumpun Melayu, bangsa ini memiliki budaya yang relatif sama yang terkonotasi kurang kompetitif. PM Lee membisikkan pada anak bangsanya, ‘fokuslah pada apa yang engkau kerjakan, berkonsentrasilah pada ‘can do attitude’, sikap mental bahwa kamu bisa. Mulailah bertanya, ‘bagaimana saya mengerjakannya’, bukannya berkata, ’apakah ini bisa dikerjakan’. Dengan lompatan kepercayaan ini, Singapura bertransformasi seperti sekarang.
Beberapa masalah mendasar Tangerang Selatan prospektif diselesaikan melalui pendekatan budaya. Sampah umpamanya. Contoh yang dilakukan Bang Ben dengan turut serta memunguti sampah pada acara MTQ di Pondok Aren adalah awal yang bagus. Namun staf yang risih melihat wakil walikotanya turut serta memunguti sampah justru berpeluang menghambat rembetan budaya bersih ini. Budaya bersih memiliki akar yang kuat dalam khazanah Islam dari hadist Nabi yang artinya kurang lebih ‘Kebersihan sebagian dari Iman’. Pembudayaan bersih sebagai solusi strategis sampah ini perlu dikemas dalam kebijakan yang sistemis, massive, dan terstruktur. Memasukkan budaya bersih dalam kurikulum sekolah adalah salah satunya.
Budaya cinta ilmu dan berani membela kebenaran merupakan aspek budaya penting lainnya yang perlu dikemas dalam kebijakan daerah. Kedua budaya ini juga memiliki akar kuat dalam khazanah Islam, yaitu iqro’ dan saja’ah bahkan jihad. Walikota dalam kampanyenya memasyarakatkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Kelembagaan ini sangat baik dilanjutkan secara serius dan kreatif agar minat baca anak Tangerang Selatan terfasilitasi dengan baik. Di era digital dewasa ini, kegiatan membaca tidak terbatas melalui buku (kertas), namun perlu meluas pada pemanfaatan e-book. Budaya berani membela kebenaran sebagai bagian budaya Betawi perlu ditumbuhsuburkan di antaranya melalui perguruan silatnya. Di samping belajar olah tubuh, melalui silat diajarkan sikap mental positif yang pada gilirannya akan menjadi warna dominan sikap mental warga Tangerang Selatan khususnya para birokratnya.
Dalam mereformasi birokrasi, perlu dicari budaya dasar yang mampu secara efektif mengungkit perubahan. Malu merupakan ajaran Islam yang dapat diserap dalam budaya birokrasi dan masyarakat kita. Nabi berpesan yang kurang lebih artinya, ‘Kalau tak malu, lakukanlah semaumu’. Tobirin (2010) menyatakan, ‘Budaya malu akan menjadi inspirasi terbentuknya karakter sikap dan perilaku yang mengedankan pada prinsip nilai yang dijunjung bersama. Semestinya budaya malu ini diterapkan di lingkungan birokrasi. Budaya ini akan menjadi cermin ketika birokrat tidak dapat bekerja secara baik dan bekerja dengan kinerja yang tinggi namun menuntut gaji yang tinggi. Demikian halnya apabila birokrat melanggar nilai-nilai etika setidaknya birokrat tersebut akan merasa mendapat sangsi yang tegas dari sosiologis’.
Faktor dominan dari kritik pakar dan keluhan masyarakat terhadap birokrasi adalah karena hilang atau memudarnya rasa malu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2010, mengingatkan agar para pemimpin membangun budaya malu. Tentunya budaya malu ini diarahkan secara positif dalam rangka membangun, bukan sebaliknya.
Mengambil inspirasi dari PM Lee, saatnya ARD dan Bang Ben membisikkan ke warga Tangerang Selatan khususnya para birokratnya, ‘malu dong mangkir kerja, malu dong mempersulit warga, malu dong tidak menuntaskan pekerjaan, malu dong buang sampah sembarangan, malu dong tawuran, dlsb, yang tentunya harus dimulai dari diri mereka berdua.
Penutup
Kritik dan keluhan terhadap birokrasi sudah sering dan nyaring diperdengarkan. Pemerintah Pusat telah menyadari dan mengeluarkan Perpres Grand Design Reformasi Birokrasi lengkap dengan petunjuk pelaksanaannya. Pemerintah Daerah memiliki momentum dan kewajiban melanjutkannya. Berbekal 4 C commitment, concept, competency, dan clean, diharapkan ARD dan Bang Ben segera menyusun agenda setting reformasi birokrasi. Banyak pendekatan perlu dilakukan, dan budaya menjadi salah satu pendekatan penting. Budaya dasar yang mudah diterima mayoritas warga perlu dijadikan budaya reformasi. Disarankan untuk mengembangkan budaya gemar membaca, berani membela kebenaran, budaya bersih dan budaya malu. Hal penting lainnya dalam mengawal agenda reformasi birokrasi ini adalah menjauhkan birokrasi Tangerang Selatan dari kooptasi politik.

Reformasi Birokrasi Tangerang Selatan

Arif Wahyudi - Anggota DPRD Tangsel – Peserta Program S 3 Administrasi Publik FISIP UI

Diterbitkan Satelitnews, 12 Mei 2011

Dalam satu diskusi, Walikota Tangerang Selatan Airin Rahmi Diani (ARD) mengungkapkan tekad untuk memperbaiki layanan Pemerintah Kota. ‘Semua pegawai BP2T harus mampu bekerja dengan semangat pelayanan’. Tentu bukan hanya pegawai BP2T yang ARD maksud, melainkan semua pegawai yang menjadi ujung tombak pelayanan masyarakat. Hal ini didasari banyaknya keluhan masyarakat bahkan pengalaman pribadi ARD sebagai pelaku usaha terhadap layanan buruk Pemerintah Kota khususnya BP2T. Sebuah ancang-ancang reformasi birokrasi yang patut diacungi jempol di sesi awal, yang kita tunggu langkah dan hasilnya pada sesi berikutnya.
Pengalaman sukses reformasi birokrasi di beberapa daerah barangkali dapat dipertimbangkan. Prof Eko Prasojo mengidentifikasi empat faktor yang mempengaruhi sukses reformasi birokrasi Sragen dan Jembrana yaitu 1. political will dan komitmen Kepala Daerah sebagai pemimpin tertinggi dari birokrasi untuk melaksanakan progam bersama jajaran birokrasi. Oleh karenanya penyamaan visi, misi, tujuan, antara Kepala Daerah dengan jajarannya mutlak dilakukan untuk menghasilkan persepsi dan motivasi dalam melaksanakan program. Hal yang perlu diantisipasi adalah apabila ada sejumlah orang dalam internal birokrasi yang kontraproduktif terhadap pelaksanaan program. 2. Kemampuan Kepala Daerah beserta jajaran untuk melibatkan organisasi lokal seperti lembaga dan tokoh masyarakat dalam penyusunan prioritas, pelaksanaan, pengawasan hingga evaluasi. Dengan keterlibatan semua pihak akan diperoleh dukungan politik, motivasi dan penerimaan masyarakat terhadap program. Struktur dan budaya lokal yang akomodatif merupakan faktor penguat keberhasilan program. 3. Efisiensi program dan perubahan paradigma dan budaya birokrasi. Program pembangunan di awal adalah cost center yang menyerap anggaran besar yang harus diefisienkan untuk memaksimalkan kapasitas pembangunan. Birokrasi di era sekarang dituntut untuk berinteraksi dengan semua stake holder dalam pola kemitraan daripada sebagai penguasa. 4. Pemilihan prioritas, keterkaitan dan sinergitas program yang berpihak pada kebutuhan masyarakat. Dari empat faktor di atas Prof Eko Prasojo menyatakan bahwa political will dan komitmen Kepala Daerah menjadi faktor yang paling menentukan.
Setelah political will dan komitmen dinyatakan ARD, permasalahan penting berikutnya adalah seperti apa grand design dan pelaksanaan reformasi birokrasi Pemkot Tangsel.
Secara Nasional, Pemerintah telah mengeluarkan Perpres 81 tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025. Dalam Perpres ini diidentifikasi enam tujuan reformasi birokrasi yaitu 1. mengurangi dan akhirnya menghilangkan setiap penyalahgunaan kewenangan publik oleh pejabat di instansi yang bersangkutan; 2. menjadikan negara yang memiliki most-improved bureaucracy; 3. meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat; 4. meningkatkan mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan/program instansi; 5. meningkatkan efisiensi (biaya dan waktu) dalam pelaksanaan semua segi tugas organisasi; 6. menjadikan birokrasi Indonesia antisipatif, proaktif, dan efektif dalam menghadapi globalisasi dan dinamika perubahan lingkungan strategis.
Akan tetapi, jika gagal dilaksanakan, reformasi birokrasi hanya akan menimbulkan ketidakmampuan birokrasi dalam menghadapi kompleksitas yang bergerak secara eksponensial di abad ke-21, antipati, trauma, berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, dan ancaman kegagalan pencapaian pemerintahan yang baik (good governance), bahkan menghambat keberhasilan pembangunan nasional. Satu kondisi yang kita tidak inginkan.
Beberapa indikator dalam Perpres ini adalah indeks persepsi korupsi (IPK) di mana IPK Indonesia 2,8 dari 10, akuntabilitas keuangan Pemerintah untuk mencapai opini WTP BPK, survey integritas KPK tentang kualitas pelayanan public (rata-rata Pemda 6,69 dari 10). Skor integritas menunjukkan karakteristik kualitas dalam pelayanan publik, seperti ada tidaknya suap, ada tidaknya Standard Operating Procedures (SOP), kesesuaian proses pelayanan dengan SOP yang ada, keterbukaan informasi, keadilan dan kecepatan dalam pemberian pelayanan, dan kemudahan masyarakat melakukan pengaduan. Indikator lain adalah kemudahan berusaha (doing business). Indonesia berdasar data International Finance Corporation tahun 2009 menempati peringkat doing business ke-122 dari 181 negara atau berada pada peringkat ke-6 dari 9 negara ASEAN. Dalam kaitan dengan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi, penilaian government effectiveness Bank Dunia, Indonesia memperoleh skor -0,43 pada tahun 2004, -0,37 pada tahun 2006, dan -0,29 pada tahun 2008, dari skala -2.5 menunjukkan skor terburuk dan 2,5 menunjukkan skor terbaik. Meskipun pada tahun 2008 mengalami peningkatan menjadi -0,29, skor tersebut masih menunjukkan kapasitas kelembagaan/efektivitas pemerintahan di Indonesia tertinggal jika dibandingkan dengan kemajuan yang dicapai oleh negara-negara tetangga. Kondisi ini mencerminkan masih adanya permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan, seperti kualitas birokrasi, pelayanan publik, dan kompetensi aparat pemerintah. Selanjutnya, berdasarkan penilaian terhadap Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), pada tahun 2009 jumlah instansi pemerintah yang dinilai akuntabel baru mencapai 24%. Gambaran di atas mencerminkan kondisi birokrasi kita saat ini.
Reformasi birokrasi merupakan upaya berkelanjutan yang setiap tahapannya memberikan perubahan atau perbaikan birokrasi ke arah yang lebih baik. Pada tahun 2014 diharapkan sudah berhasil mencapai penguatan dalam beberapa hal yaitu: 1. penyelenggaraan pemerintahan yang baik, bersih, bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme; 2. kualitas pelayanan publik; 3. kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi; 4. profesionalisme SDM aparatur yang didukung oleh sistem rekrutmen dan promosi aparatur yang berbasis kompetensi, transparan, dan mampu mendorong mobilitas aparatur antardaerah, antarpusat, dan antara pusat dengan daerah, serta memperoleh gaji dan bentuk jaminan kesejahteraan yang sepadan.
Beberapa situasi kronis birokrasi setidaknya teridentifikasi dalam beberapa hal yaitu: 1. Organisasi- Organisasi pemerintahan belum tepat fungsi dan tepat ukuran (right sizing). 2. Peraturan perundang-undangan - Beberapa peraturan perundang-undangan di bidang aparatur Negara masih ada yang tumpang tindih, inkonsisten, tidak jelas, dan multitafsir. Selain itu, masih ada pertentangan antara peraturan perundang-undangan yang satu dengan yang lainnya, baik yang sederajat maupun antara peraturan yang lebih tinggi dengan peraturan di bawahnya atau antara peraturan pusat dengan peraturan daerah. Di samping itu, banyak peraturan perundang-undangan yang belum disesuaikan dengan dinamika perubahan penyelenggaraan pemerintahan dan tuntutan masyarakat. 3. SDM Aparatur - SDM aparatur negara Indonesia (PNS) saat ini berjumlah 4,732,472 orang (data BKN per Mei 2010). Masalah utama SDM aparatur Negara adalah alokasi dalam hal kuantitas, kualitas, dan distribusi PNS menurut teritorial (daerah) tidak seimbang, serta tingkat produktivitas PNS masih rendah. Manajemen sumber daya manusia aparatur belum dilaksanakan secara optimal untuk meningkatkan profesionalisme, kinerja pegawai, dan organisasi. Selain itu, sistem penggajian pegawai negeri belum didasarkan pada bobot pekerjaan/jabatan yang diperoleh dari evaluasi jabatan. Gaji pokok yang ditetapkan berdasarkan golongan/ pangkat tidak sepenuhnya mencerminkan beban tugas dan tanggung
jawab. Tunjangan kinerja belum sepenuhnya dikaitkan dengan prestasi kerja dan tunjangan pensiun belum menjamin kesejahteraan. 4. Kewenangan - Masih adanya praktek penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dan belum mantapnya akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. 5. Pelayanan public Pelayanan publik belum dapat mengakomodasi kepentingan seluruh lapisan masyarakat dan belum memenuhi hak-hak dasar warga negara/penduduk. Penyelenggaraan pelayanan publik belum sesuai dengan harapan bangsa berpendapatan menengah yang semakin maju dan persaingan global yang semakin ketat. 6. Pola pikir (mind-set) dan budaya kerja (culture-set) - Pola pikir (mind-set) dan budaya kerja (culture-set) birokrat belum sepenuhnyamendukung birokrasi yang efisien, efektif dan produktif, dan profesional. Selain itu, birokrat belum benar-benar memiliki pola pikir yang melayani masyarakat, belum mencapai kinerja yang lebih baik (better performance), dan belum berorientasi pada hasil (outcomes).
Tekad untuk melakukan reformasi birokrasi sudah selaras dari Pusat hingga Tangerang Selatan. Grand design yang sudah disiapkan oleh Pemerintah Pusat perlu diterjemahkan ARD dan jajarannya dalam Grand Desain Reformasi Birokrasi Tangsel. Ini bukan kerja ringan.. Mari kita bantu dan sukseskannya…