Oleh: Mustofa Sarbini
Tiap individu muslim atau muslimah adalah pejuang dakwah yang harus berakhlak mulia. Maka suatu keharusan menghayati dan mengamalkan seperti disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, aku diutus untuk menyempurnakan kebaikan akhlak.
Anne menghentakkan tangannya untuk menghilangkan rasa pegal-pegal. Terasa sulit baginya untuk mengawali tulisan tugas dari Ibu dosen tentang sosok yang berakhlak mulia, dengan baktinya pada orang tua. Tugas selain untuk Ibu Ida juga harus dikirim ke redaksi.
Terpancar dari sinar mata yang bening penuh keseriusan itu menatap ke arah susunan buku yang ada di atas meja komputernya. Entah sudah berapa buku yang dijadikan referensi untuk menghasilkan sebuah tulisan. Namun terasa belum mendapatkan yang pas juga.
Susah juga ya? Ugh, ini sih jangan berharap dimuat dicek redaksi aja sudah syukur. Tapi akh moga aja Ibu Ida tidak seteliti redaksi. Tapi mereka cerpenis atau novelis pemula bisa diterima kok! Pasti aku bisa juga, cuma ini awal yang susah kali ya? Anne membatin.
Ingatannya mengarah ke sebuah buku kumpulan Seri Fiksi Mengetuk Cintamu, karya Asma Nadia dkk. Dan juga melirik buku Fiqhu Dakwah. Dicoba membaca dengan penuh penghayatan. Tapi Anne jadi bingung sendiri. Lho apa hubungannya, antara dua buku ini?
Anne memperhatikan buku tebal Fiqhu Dakwah karya Syaikh Musthafa Mashyur dengan Seri Fiksi Mengetuk Cintamu karya Asma Nadia dkk. Fiksi dan non fiksi??
Yes!! Seru batin Anne, ingatannya mengarah ke sosok Nia Arunita. Entah ada ide apa. Namun yang pasti ia segera membaca buku kumpulan cerpen tersebut. Matanya membaca profil cerpenis, Novia Syahidah. Nama ini unik, perpaduan Novia, nama dari negeri antah berantah dengan semangat juang mencapai syahid yaitu Syahidah. Pikir Anne seenaknya mengartikan nama.
Tapi boleh tidak ya pinjem nama aja? Ah, biarin anggap aja kebetulan namanya sama, jika tak ikhlas moga aja Novia Syahidah bisa memaafkan. Lagian kalau memang beneran pun kan gak rugi, kan bisa nambah ngetop! Anne coba menghilangkan keraguan dengan argumennya sendiri.
Bagi Anne, diambilnya Novia Syahidah, jika melihat profil di buku tersebut nama yang pas untuk pinjem. Sosok yang nama ngepop tapi islami. Anne tersenyum, jadi ingat sama Novia Kolopaking!
***
“Nia, mo cepet pulang aahh.”
“Iya deeeh, kebetulan aku mau ke pernas, udah lama nggak nongol ke sana.”
“Mo cari inspirasi ya? Atau tugasnya udah kelar?”
“Belum, kamu?”
“Sama, tinggal dikit lagi.”
“Apanya yang belum?”
“Judul, tema, alur, dan setting ceritanya.”
“Iiih, itu sih bukannya tinggal dikit! Jangan-jangan kamu sengaja nggak mau buat? Kan kamu paling alergi bikin-bikin cerpen?”
“Iya sih, mau nggak mau. Tapi serius kok tinggal dikit! Kapan kelarnya, rahasia. Yang penting headlinenya nggak molor. Sesuai titah Bu Ida!”
“Duluan ya, assalamu’alaikum!”
“Alaikumussalaam.”
Anne segera mengikuti ingsutannya Nia. Mereka berpisah di balik pintu kelas.
Supaya tidak tertimpa hujan yang sudah mulai turun, Anne memakai jas hujan. Gas ditekan santai. Ia meninggalkan komplek STAIDI Al Hikmah melalui jalan Bangka Raya, agar bisa mengindari macet di Buncit V. Jarak ke rumahnya di bilangan Minangkabau, Menteng Atas jika naik motor hanya butuh waktu setengah jam. Namun ternyata ia membelokkan arah menuju Pancoran, tidak langsung pulang.
Hanya lima belas menit, motor merek Kharisma tromol segera parkir di sebuah rumah yang memiliki bunga warna warni.
“Subhanallah!” Hanya itulah kata yang terucap dari Anne setelah mendengar kisah dari Ibunya Nia.
“Berbakti sekali, saya bisa tidak ya?”
“Nak Anne, pasti bisa. Ibu mau tahu, selama ini hubungan kalian pernah ada percekcokkan tidak? Atau marahan gitu?”
Anne hanya gelengkan kepala, “Makasih sekali Bu ya, sudah diizinkan memuat kisah barusan. Rekaman ini nanti Anne salin ke komputer.”
“Asal tidak nambahin dan mengurangin, pokoknya apa adanya.”
“Insya Allah, Anne juga janji hanya Bu Ida yang memberitahu kelak kalau Nia bertanya tentang tulisan saya nanti.”
****
“Naskah cerita kamu, ibu baca sangat bagus. Kisah siapa? Ibu sangat terharu.”
“Yakinlah Bu, ini cerpen non fiksi. Ada referensi dan saksi hidup.”
“Ibu percaya. Semoga juga cerpen ini bisa dimuat di media cetak.”
“Amin.” Anne tersenyum senang. Ia melirik ke arah Nia yang juga lagi memandang ke arahnya.
Usai kuliah siang ini mereka seperti biasa adu pandangan dengan komputer. Ngenet di Warnet Soffat memang mengasyikan, selain tambah wawasan juga tambah teman.
“Kenapa nggak dari dulu ngedaftar milis forum lingkar pena? Kan banyak info yang didapetin dari teman-teman penulis. Kali aja kamu bisa sebeken Rachmania Arunita sekarang.”
“Gak jaminan lagi hanya gara-gara aktif dimilis,” ujar Nia sambil tersenyum manis.
“Ngerti non! Cuma setidak-tidaknya kita gak bakalan kelimpungan kaya sekarang!”
“Nah! Mulai sekarang dengan apa adanya sepengetahuan kita, coba-coba aja! Moga aja naskah kita yang udah dikasih nggak banyak salahnya. Headline dari Bu Ida mepet banget sih!”
“Bukannya mepet, kitanya aja ngegampangin! Si pengarang novel Eiffel I’m in Love aja gak hobi baca to berhasil juga!”
“Em em!” Timpal Nia singkat. Ia tidak tahu kalau Anne tugasnya sudah selesai.
“Non fiksi kamu nanti tentang apa?”
“Rahasia dong!”
“Uuh pelit amat!”
Anne dan Nia segera konsen mencari-cari situs yang bisa dibuka untuk dunia mengarang. Agar lebih menyakinkan. Mereka baru merasakan pentingnya mengerti dunia kepenulisan. Maka tidak alasan lagi untuk bete belajar Bahasa Indonesia!
****
Mata Nia terbelalak ketika membaca majalah kesukaannya di toko buku Hero Mampang. Di sudut cover tertera nama yang tak asing lagi. Tulisan cerpen Jihad Novia Syahidah karya Anne Anggarwati. Berkali-kali dibaca namun tetap seperti bacaan semula.
Benarkah ini dia? Nia segera duduk di sudut bangku yang tersedia tak jauh dari tempat lesehan baca anak-anak. Tidak perduli dengan aktifnya anak-anak kecil yang berisik. Sekali lagi ia baca: Jihad Novia Syahidah karya Anne Anggarwati?
Spontan tombol handphone dipencetnya. Namun ia kecewa. Nomor yang dituju sedang tidak aktif. Ia coba menghubungi ke rumah. Namun tidak ada yang mengangkat. Nia segera mengangkat badannya. Melangkah ke kasir.
Keesokan hari, pipi Anne memerah akbiat cubitan Nia.
“Deeehh! Nggak bilang-bilang kalau ngemail cerpen ke majalah!”
“Maaf, nggak sengaja ngesend. Kasusnya lucu banget tau! Ingat kan waktu kita ngenet tiga hari yang lalu?”
“Yap! Truss.”
“Sebenarnya aku mau membatalkan send email itu. Soalnya attachement cerpen dan curricullum vitae yang udah di zip itu salah. Syukurnya cerpen yang kirim sama dengan untuk Ibu Ida. Jadi selesai deh tugasnya.”
“Aku ikut seneng deh sudah bukti cerpen Jihad Novia Syahidah dimuat. Bukti cerpen ini layak!”
“Alhamdulillah, semoga tidak hanya untuk konsumsi pribadi, tapi juga untuk umum!”
“JNS megisahkan sosok yang ada sekarang?”
Anne anggukkan kepala, “Asli 100 persen ada dan tokohnya sesuai banget dengan peran si Novia Syahidah!”
“Siapa? Ayo dooong kasih tahu Nia..”
Anne hanya diam. Sebenarnya ingin sekali bicara to the point. Tapi ia ingin surprise itu yang mengungkapkan Bu Ida ke Nia. Wajah memelas Nia tidak dianggap. Malah mengajak untuk kembali ngenet di warnet Soffat.
****
Sungguh beruntung penulis-penulis jaman sekarang. Sudah tidak perlu repot-repot ngeprint dan mengirimkan naskah manual ke redaksi. Bisa hanya modal seribu lima ratus rupiah ngenet selama setengah jam sudah bisa mengrim naskah via email. Tapi tentunya hanya terbatas pada redaksi yang menerima via email. Lebih-lebih bagi Nia yang di rumahnya ada komputeryang bisa internet. Kini dengan sudah terbitnya cerpen JNH membuat Nia tambah semangat. Jadi tidak mau kalah sama Anne!
Coba-coba bongkar kumpulan cerpen yang ia pinjem dari Tuti, kolektor majalah dan buku cerpen. Dari yang sekuler sampai islami. Ingin tahu gaya penulisan bebas, dialognya, ketokohan, dan segala hal untuk membentuk sebuah naskah.
Jika merasa sudah mencukupi mengetik, ia simpan di floppy disk atau CD. Untuk aman dan gampang diedit dimana saja, ia send kompresan attachment ke email. Tak lupa cc ke email-email pribadi miliknya yang lain.
Dibaca berkali-kali. Takut kalau masih ada tulisan yang tak sesuai alur atau salah tulis. Sempurna! Itu yang ia coba. Setelah yakin ia send ke email sebuah redaksi yang pernah memuat cerpen JNHnya Anne.
Ia berandai-andai. Tokoh Novia Syahidah andai dirinya. Tapi ia merasakan sulit. Mungkin jauh panggang dari api! Di JNH, Novia Syahidah begitu baktinya sama orang tua, bersahaja, banyak sahabat, pinter, dan supel.
Sungguh ya Rabb! Jadikan aku seperti Novia Syahidah! Pekik do’a Nia.
Nia menekan keyboard untuk merefresh email. In box terbaru nongol. Ups! From Anne251203JNH@myquran.com Dari Anne baru nongol beberapa jam yang lalu. “Dear! Assalamu’alaikum wr. wb. Nia, info urgent tuk kamu, dari Jumat-Minggu, 19-21 Desember 2003 ada DKJ ngadain Temu sastra Jakarta di TIM. Datang ya, ada Mbak Helvy, Mbak Asma, dan Mbak Dwi Asih yang jago ngocolin anak-anak TPA de el el, pokoknya gak nyesel! Truss di Moeslempro Creative, itu lho di studio ph-nya suami Mbak Anneke Putri ngadain casting film nya, ikutan dong! Buruan daftar minggu depan! Wassalam, Anne.”
Usai membaca email ia kembali coba konsen membaca kalimat-kalimat di monitor. Melanglang buana mencari informasi terbaru dari berbagai situs. Tapi hanya sebentar, takut tagihan teleponnya menggunung.
****
Ternyata alur cerita JNH bisa mengharukan pembacanya. Begitu yang dirasakan Nia. Tanpa terasa air mata bening mengalir membasahi pipi. Dan yang lebih membuatnya terharu sosok Novia Syahidah itu adalah gambaran dirinya. Ya JNH adalah cerita non fiksi tentang keluarga dia.
Nggak adil! Protes Nia. Ia merasa justru seharusnya kisah Anne Anggarwati dan keluarganya yang diangkat. Ia sosok komplet dan sesuai dengan Novia Syahidah.
“Kenapa? Nia merasa selama ini justru banyak menyusahkan ibu.”
“Nia sayang. Segala sesuai jadi objektif kalau yang menilai orang lain. Sungguh justru ibu sangat berterima kasih atas segala bakti ananda.”
“Nia khawatir riya.”
“Insya Allah tidak. Anne janji selain Allah, hanya kita, Anne, dan Ibu Ida yang tahu kisah asli JNH.”
“Semoga kita sama-sama ikhlas seperti di JNH ya Bu.”
“Mudah-mudahan.”
Mereka saling rangkul. Sejak bapaknya Nia meninggal, Ibu Nia tidak menikah lagi. Dengan kekayaan melimpah dari warisan ia bertekad tak akan menikah lagi sebelum membesarkan dulu putri sematawayangnya sampai menikah. Itu janji yang ia ikrarkan saat detik-detik menjelang meninggalnya sang suami.
Jakarta, 25 Desember 2003
Rabu, 19 Januari 2011
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar