Jumat, 21 Oktober 2011

Suharna Surapranata, Teladan di Semua Mihwar

Suharna Surapranata, Teladan di Semua Mihwar

Dakwah
10/21/2011 10:25:00 AM | Posted by Ghiroh Tsaqofy

<6


Islamedia - Gonjang-ganjing reshuffle kabinet banyak mendapatkan sorotan
media akhir-akhir ini. Banyak media menilai PKS emosional mensikapi
reshuffle ini lantaran seorang menterinya terkena dampak, harus meninggalkan
kursi kementrian untuk diganti personal lain. Benarkah ada sikap emosional
menghadapi reshuffle tersebut, dan bagaimana sikap Menteri yang terkena
reshuffle ?

Menteri dari PKS yang terkena reshuffle itu adalah Suharna Surapranata.
Apakah ia emosional menghadapi peristiwa ini ? Ah, berlebihan pertanyaan
itu. Kang Harna, panggilan akrab sang menteri, ternyata biasa saja. Bersikap
sangat arif dan tenang, sama sekali tidak ada kesan emosional.

*Belum Pengumuman, Sudah Berpamitan*

Bagi banyak kalangan, jabatan menteri dianggap sebagai sebuah posisi yang
prestis dan terhormat, maka banyak orang berebut mendapatkannya. Oleh karena
itu, bagi sebagian menteri, reshuffle sungguh merupakan tamparan dan menjadi
momok yang sangat menakutkan. Namun tidak demikian dengan Kang Harna. Mantan
Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS ini menganggap posisi menteri
adalah amanah dakwah. Maka sebagai bagian utuh dari proses dakwah, ia siap
ditempatkan dimanapun pos-pos yang bisa menjadi lahan baginya untuk
berkontribusi secara optimal.

Begitu isu reshuffle sudah kian menghangat, dan sudah ada isyarat dari
Istana Negara bahwa dirinya akan diganti, ia langsung menyiapkan segala
sesuatu. Selasa pagi, 18 Oktober 2011, Kang Harna memimpin Rapim Menristek
yang dihadiri para pejabat di lingkungan Kementrian. Pada Rapim tersebut,
Kang Harna menyampaikan bahwa dirinya akan segera diganti oleh personal lain
yang akan ditunjuk oleh Presiden SBY. Oleh karena itu Kang Harna
menyampaikan kalimat pamitan dan beberapa pesan.

Tentu saja pernyataan tersebut sangat mengejutkan para pejabat di lingkungan
kementrian Ristek, karena belum ada pengumuman resmi dari Presiden SBY
terkait reshuffle. Banyak kalangan pejabat di kementrian yang merasa tidak
percaya atas informasi tersebut. Selama ini hubungan sang menteri maupun
kementrian Ristek dengan Presiden SBY baik-baik saja, tidak ada masalah atau
kasus apapun yang layak dipersoalkan. Bahkan ada banyak kemajuan serta
prestasi di Kementrian Ristek selama dipimpin Kang Harna.

Apalagi jika dibandingkan dengan beberapa kementrian lainnya yang tengah ada
kasus, atau mendapatkan “raport merah” dari UKP4, atau ada masalah dengan
laporan keuangan kementrian. Justru Kementrian Ristek posisinya aman-aman
saja, bahkan mendapatkan nilai bagus, maka pernyataan pamit Kang Harna
sangat mengejutkan para pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek.

Bukan hanya pamitan di forum resmi tersebut, namun Kang Harna juga
mengunjungi seluruh lantai dan memasuki ruangan-ruangan untuk menyapa
sekaligus berpamitan dengan para pegawai di lingkungan kementrian Ristek.
Benar-benar kejutan, karena tidak menyangka Kang Harna menyapa mereka dan
berdialog dengan para staf, sekaligus berpamitan. Kang Harna sudah pamit
padahal reshuffle belum diumumkan SBY, sehingga belum ada kepastian apakah
Menristek diganti atau tidak.

Para pegawai di lingkungan Kementrian Ristek memanfaatkan momentum itu untuk
bersalaman dan berpotret bersama sang Menteri. Ya, Menteri Ristek di hari
terakhir pengabdiannya. Sebagian pegawai bahkan terharu dan meneteskan air
mata karena tidak menyangka Kang Harna akan segera meninggalkan mereka.

Usai mengungkapkan pamit, Kang Harna menyampaikan beberapa pesan kepada para
pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa jabatan itu hanya
amanah yang setiap saat bisa selesai. Beliau mengatakan reshuffle Menristek
itu hanya pindah nakhoda, karena semuanya sudah tersedia, seperti
undang-undang, visi, misi kementrian dan perangkat lainnya. Untuk itulah
Kang Harna meminta semua pejabat dan staf bekerja semakin profesional
bersama menteri baru nantinya.

*Telah Selesai Berkemas*

Sesungguhnya, semenjak isu reshuffle bergulir, Kang Harna sudah
memerintahkan kepada para staf khusus beliau untuk segera berkemas.
Demikianlah Kang Harna menyikapi setiap ada isu reshuffle. Seakan sudah
memastikan bahwa dirinya yang akan terkena. Hal sama beliau lakukan saat ada
isu reshuffle setahun yang lalu, beliau sudah memerintahkan staf untuk
berkemas. Namun ternyata waktu itu tidak jadi ada reshuffle.

Para staf segera melakukan perapihan di kantor Kementrian Ristek, dengan
memilah barang-barang. Kang Harna berpesan agar cermat dalam melakukan
packing. Jangan ada barang kementrian yang terbawa, dan jangan ada barang
pribadi yang tertinggal. Hingga hari Senin 17 Oktober 2011, packing sudah
selesai dilakukan oleh para staf. Barang-barang sudah dikemas dengan rapi
dan tinggal membawa pergi.

*Pulang Dengan Mobil Pribadi*

Usai berpamitan dan berpesan dengan pejabat dan staf di lingkungan
Kementrian, Kang Harna pun pulang. Luar biasa, siang itu, Selasa 18 Oktober
2011, beliau pulang mengendarai mobil pribadi. Mobil dinas Menristek beliau
parkir di kantor, kunci serta seluruh perlengkapan mobil sudah dititipkan
kepada pegawai yang berwenang.


Para pejabat yang melepas beliau semakin heran. Seseorang bertanya, “Mengapa
tidak menggunakan mobil menteri?” Kang Harna menjawab, “Saya sudah pamitan.
Itu jatah mobil menteri baru nanti”, jawab beliau.

Sebuah keteladanan yang luar biasa. Betapa banyak pejabat yang ingin selalu
menikmati bahkan memiliki fasilitas dinas. Kalau perlu tidak dikembalikan,
walaupun tidak lagi menjabat. Tidak demikian dengan kader senior PKS ini.
Kang Harna memberikan contoh perilaku politik yang santun, beradab dan
bertanggung jawab. Kang Harna simbol kesalihan seorang pejabat negera
setingkat menteri.

Tidak perlu menunggu pengumuman resmi. Beliau sudah berpamitan. Beliau sudah
mengemas semua barang. Beliau sudah menyerahkan mobil kementrian. Maka,
siang hari itu, sejarah perpolitikan di Indonesia mencatat, seorang Menteri
yang menuntaskan pekerjaan di hari terakhir tugasnya, dengan sempurna.

Luar biasa. Sikap konsistensi kepada keyakinan, sikap kesederhanaan, sikap
kehati-hatian telah dicontohkan. Sejarah perpolitikan Indonesia harus
mencatat peristiwa ini, sebagai pelajaran bagi seluruh pejabat di republik
ini.

*Mengembalikan Rumah Dinas*

Kemana Kang Harna setelah selesai pamitan di Kantor Kementrian Ristek ?
Selasa siang itu, 18 Oktober 2011, dengan menggunakan mobil pribadinya, Kang
Harna langsung menuju rumah Dinas Menristek. Beliau meneliti kondisi rumah,
dan memastikan bahwa rumah dinas tersebut sudah berada dalam kondisi rapi.
Beliau memasuki rumah dan melihat semua bagian dan ruangan dengan detail.
Jangan ada barang-barang milik dinas yang terbawa, dan jangan ada barang
milik beliau yang tertinggal.

Setelah memastikan bahwa semua sudah beres dan rapi, beliaupun meninggalkan
rumah dinas Menristek. Beliau ingin memastikan bahwa rumah dinas tersebut
besok pagi sudah siap ditempati Menristek yang baru. Luar biasa, sebuah
sikap kesederhanaan dan kehati-hatian yang pantas diteladani oleh semua
masyarakat dan bangsa, khususnya bagi para pejabat negara.

Lagi-lagi, sejarah perpolitikan di Indonesia harus mengabadikan peristiwa
ini. Sebuah pendidikan politik bagi para pejabat di seluruh level, agar
bersikap profesional, sederhana dan bersahaja.

*Mengganti KTP*

Masih ada yang kurang, siang itu. Usai meneliti rumah dinas, Kang Harna
segera meluncur ke Kantor Kelurahan. Apa yang beliau lakukan ? Ternyata
beliau mengurus pergantian KTP.

Dalam KTP yang beliau miliki selama menjabat menjadi Menristek, tertulis
identitas “Menteri” di KTP tersebut. Maka Kang Harna ingin semua selesai
pada hari itu pula, Selasa 18 Oktober 2011, sebelum ada pengumuman resmi
reshuffle kabinet. Beliau meminta agar dibuatkan KTP baru dengan identitas
yang baru pula, karena besok pagi beliau sudah bukan Menteri.

Lega. Kang Harna menyelesaikan pembuatan KTP baru. Apa yang berbeda dari KTP
tersebut ? Kalau semula tertulis identitas “Menteri” pada KTP beliau,
sekarang tertulis “Wiraswasta” pada KTP yang baru.

Lagi-lagi, luar biasa Menteri yang satu ini. Perjalanan panjang dalam
gerakan dakwah telah membentuknya memiliki karakter yang mulia. Beliau tidak
ingin ada pemalsuan identitas. Beliau bukan lagi menteri, besok pagi. Maka
tidak layak memiliki KTP yang bertuliskan identitas “Menteri”. Beliau ingin
tampil dengan identitasnya yang asli, “Wiraswasta”. Bukan “Mantan Menteri”.

*Jam 13.00 Sudah Selesai Semuanya*

Ya, jam 13.00 wib hari Selasa 18 Oktober 2011, sudah selesai semua urusan
Kang Harna. Sudah berpamitan dan memberi pesan di Kementrian Ristek. Sudah
mengembalikan mobil dinas. Sudah meninggalkan dan merapikan rumah dinas.
Sudah mengganti identitas di KTP. Lega, semua urusan sudah dibereskan.
Rasanya tidak ada yang tersisa.

Masyaallah. Pengumuman reshuffle belum disampaikan. Belum ada kepastian
apakah Kang Harna akan jadi diganti atau tidak. Namun semua urusan sudah
dibereskan. Jika nanti malam Presiden SBY mengumumkan kabinet baru, dan
ternyata dirinya benar-benar diganti, maka ia sudah menuntaskan seluruh
urusannya. Tidak ada lagi yang menjadi bebannya.

*Keluarga Menyambut Gembira*

Kang Harna memang sudah dihubungi oleh Mensesneg Sudi Silalahi, yang
menyampaikan pesan dari Presiden SBY bahwa dirinya akan diganti. Ia menerima
pesan itu dengan perasaan “legowo”, tidak melakukan “pemberontakan” atau
“perlawanan”. Misalnya dengan membuat pernyataan di media yang menyatakan
bahwa dirinya dizalimi atau tidak terima kalau diganti, atau semacam itu.
Tidak, sama sekali tidak.

Kang Harna justru mengirim kabar itu melalui sms kepada anak-anak beliau.
Apa respon anak-anak atas berita itu ?

“Alhamdulillah Abi !” ini jawaban anak pertama.

“Alhamdulillah. Berarti Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau begitu
kita perlu syukuran !” jawab anak kedua. Ya, semua keluarga menyambut
gembira.

Dua tahun menjadi Menristek, membuat Kang Harna lebih sibuk daripada
sebelumnya. Jam 06.00 wib Kang Harna sudah berada di kantor Kementrian
Ristek. Ya pagi-pagi sekali beliau sudah berada di kantor, bahkan sering
sebelum jam 06.00 wib beliau sudah masuk kantor. Setelah itu beliau
berkegiatan di dalam kantor atau berkegiatan di luar lingkungan kantor
Kementrian. Sore atau malam baru pulang ke rumah dinas.

Dengan irama kesibukan seperti itu, membuat beliau semakin jarang bertemu
keluarga. Beliau ingin memberikan contoh teladan bagi semua pejabat, pegawai
dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa bekerja harus
bersungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Habis menunaikan shalat Subuh beliau
sudah siap pergi ke kantor. Maka, sebelum jam 06.00 beliau sudah berada di
ruangan Menristek. Kadang jam 05.30 sudah berada di ruang kerja kementrian.

Maka demikian bergembira anak-anak beliau, saat mendapat kabar bahwa Kang
Harna akan digeser dari Menristek dan diganti personal lain yang ditunjuk
Presiden SBY. Coba perhatikan respon spontan ini, “Alhamdulillah. Berarti
Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau begitu kita perlu syukuran !”

Benar, malam harinya, Presiden SBY mengumumkan kabinet baru hasil reshuffle.
Suharna Surapranata digantikan oleh Menristek yang baru, Gusti Muhammad
Hatta.

*Kinerja Kementrian*

Penggantian Kang Harna dari Menristek sudah pasti bukan karena kinerja.
Karena berdasarkan penilaian Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan
Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan BPK, kinerja Menristek diakui bagus.
Bahkan laporan keuangan Kementrian dibawah Kang Harna dinyatakan WTP selama
dua tahun berturut-turut, maka renumerasi Kemenristek dipercepat tahun ini.

Nilai “Wajar Tanpa Pengecualian” (WTP) adalah opini audit atas laporan
keuangan yang paling bagus atau menempati posisi paling atas. Opini audit
lainnya adalah “Wajar Dengan Pengecualian” (Qualified Opinion), “Tidak
Memberikan Pendapat” (Disclaimer) dan “Tidak Wajar” (Adverse). Maka dengan
melihat hasil penilaian UKP4 serta nilai WTP selama dua tahun di bawah
kepemimpinan Kang Harna, menandakan kinerja Menristek tidak ada masalah.

Maka tatkala Presiden SBY mengumumkan kabinet hasil Reshuffle, dan ternyata
Kang Harna keluar dari jajaran kementrian, publik layak bertanya, atas dasar
apa pergantian itu ? “Sudahlah, tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi”,
jawab Kang Harna.

Seperti yang ditulis Kompas, “Kendati tak mengetahui alasan pasti terkait
pencopotannya, mantan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata
mengaku legawa. Tak lupa, politisi Partai Keadilan Sejahtera ini mengucapkan
syukur karena telah memiliki kesempatan mengabdi kepada negara”.

"Saya juga merasa bersyukur bisa membantu Presiden selama dua tahun ini,"
kata Suharna kepada para wartawan di sela-sela upacara pelantikan menteri
dan wakil menteri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/10/2011).

Ketika ditanya lebih rinci terkait detik-detik pencopotannya, Suharna enggan
menceritakannya. Pencopotannya dipandang hak prerogatif Presiden sepenuhnya.
Dirinya hanya mengaku menerima telepon dari Menteri Sekretaris Negara Sudi
Silalahi.

"Sudahlah. Saya kira ini tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi," ujarnya
singkat.

Suharna mengatakan, selepas menjadi menteri, dirinya ingin kembali ke PKS
dan membangun partai. Pencopotan Suharna yang secara resmi disampaikan
Presiden di Istana Merdeka, Selasa (18/10/2011), turut mengurangi jatah
kursi menteri partai dakwah tersebut. Demikian ulasan Kompas.

Bahkan, saat acara serah terima jabatan Menristek di kantor Kementrian, Kang
Harna menyampaikan, “Saya pinjam pantun Pak Tifatul. Ayu Ting Ting naik
Kopaja, yang penting kita tetap bekerja.” Itulah slogan yang sangat nyata.
Dimanapun Kang Harna, pasti akan terus bekerja untuk masyarakat, bangsa dan
negara.

*Kang Harna di Mata Saya*

Beliau orang yang ramah, santun dan bersahaja. Beliau salah seorang jajaran
qiyadah dakwah yang memberikan contoh konsistensi dalam kehidupan. Kader
senior dakwah yang menapaki jalan panjang dan terjal, menghantarkan dakwah
dari ruang-ruang tertutup menuju ruang-ruang kenegaraan. Dan beliau sendiri
mencontohkan bagaimana sikap seorang negarawan.

Beliau tidak pernah berambisi jabatan apapun, baik dalam organisasi maupun
dalam jabatan publik. Saat beliau mendapatkan amanah menjadi salah seorang
calon menteri yang diusulkan oleh PKS, kami semua mengetahui bahwa beliau
keberatan dengan posisi itu. Beliau merasa ada lebih banyak kader dakwah
yang tepat pada posisi kementrian. Namun, beliau juga memberikan contoh
bahwa amanah harus dilaksanakan dengan segenap kemampuan.

Itulah yang sering saya katakan, “Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan
pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah
kembali. Bisa ‘iya’ bisa ‘tidak’. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin
dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak
menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut”.

Kang Harna telah memberikan contoh kepada kita. Beliau tetap bekerja,
dimanapun berada. Beliau selalu di jalan dakwah, selalu istiqamah, saat
masih duduk di bangku kuliah, saat perintisan awal dakwah, saat mengalami
masa-masa pertumbuhan dakwah yang sulit, dan bahkan akhirnya menjadi pejabat
negara, dan sekarang kembali lagi menjadi masyarakat biasa. “Wiraswasta”,
begitu pilihan identitas di KTP-nya.
Tidak menyalahkan sana menyalahkan sini, tidak emosi karena dicopot dari
menteri, justru beliau menampakkan sikap yang rendah hati.

Luar biasa. Gemblengan perjalanan dakwah puluhan tahun telah menampa Kang
Harna memiliki karakter yang sangat kuat. Layak diteladani oleh para kader,
tentang kesederhanaan, tentang ketekunan, tentang dedikasi, tentang
konsistensi, tentang kehati-hatian, tentang kesantunan, tentang
profesionalitas kerja, tentang kemampuan adaptasi di segala mihwar, tentang
sikap kenegarawanan, tentang komitmen kekaderan, tentang visi yang terang
benderang, tentang platform pembangunan Indonesia yang jelas.

Banyak, teramat sangat banyak yang bisa kita pelajari dari kader senior yang
satu ini. Saya salah seorang kader yang merasa bangga, memiliki senior yang
memberikan keteladanan mulia kepada generasi berikutnya. Semoga semakin
banyak kader berkualitas Suharna Surapranata.

*Oleh : Cahyadi Takariawan*

0 komentar: